Selasa, 26 September 2017

Kejadian Absurd di Bulan Puasa

Sore itu kira-kira jam 5, gue baru pulang kerja. Cuaca yang panas juga kondisi tubuh yang begitu lemas, badan ini langsung ambruk jatuh ke kasur seperti bangunan kosong yang dirubuhkan. Maklum karena bulan itu adalah bulan puasa. Dalam posisi tubuh yang terbaring lemas bibir gue hanya terucap air.... aaiirr... aaaiiirrr... es buaah... mie glosor... kolaak... dan semua hidangan khas dibulan puasa gue sebutin satu-satu dengan suara yang parau lalu "glepeuk" terlelap tidur.

Pukul 6 kurang 15 menit gue dibangunin nyokap buat siap-siap buka puasa, gue berjalan merangkak menuju ke dapur tempat hidangan puasa yang sebentar lagi akan disantap, dalam perjalanan dari kamar gue ke dapur gue terus berjalan merangkak sembari mengucapkan semua hidangan puasa, di samping kanan dan kiri gue ada kedua adik gue yang menyemangatin "Ayook aa pasti bisaa, didapur ada es buah kesukaan aa, ada agarnya, ada rumput lautnya, juga buah-buahan, ayook", tapi dibelakang ada bokap yang menggoda iman gue

"SAN...LIHAT APA YANG BAPAK PEGANG", gaya bicara mirip presenter silet
"Sendok pak!"
"BUKAN BEGO, MAKSUDNYA INI BAPAK PEGANG KOLAK... ENAK SEKALI KOLAK INI", tangannya sambil mengaduk-aduk kolak
"kolak? kolak apa yang bapak pegang?", langkah gue terhenti sejenak
"KOLAK BIJI SALAK!", diselingi senyuman membujuk
"BODO AMAAT PAK, MAU BIJI SALAK KE, BIJI APA KE, GAK SUKA!", geram, ngegoda tuh elitan dikit napa
"OH YASUDAH BUAT BAPAK AJA KALAU GITU", sambil melaju ke dapur dengan sepatu roda dan sayap ibu peri dipunggungnya

Hahaha maaf ini cuma didramatisir, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Duur bedug, azan berkumandang, sudah waktunya berbuka puasa. Semua hidangan sudah tersedia untuk disantap, gue lahap satu per satu hingga perut ini tak sanggup menampung satu butir nasi pun. Ketika perut kekenyangan tiba-tiba ada telpon masuk, ternyata dari temen gue, alvian. Dari percakapan ditelpon, dia ngajak gue datang ke Taken (salah satu tempat nongkrong di Bogor) untuk buka puasa bersama, disana dia bersama dengan baron, salah satu temen gue juga. "Eehh gila lu ndro!" waktunya udah telat kali buat buka puasa bersama dan gak mungkin gue makan lagi, ini perut udah kaya gunung semeru. Akhirnya gue suruh mereka datang ke rumah. Sesampainya mereka di rumah gue, mereka langsung nyulik gue, gue dibonceng sama alvian, disepanjang perjalanan gue berontak dan terus berontak, "Ikeeh...ikeeh, kimociii... yameteee!" hanya itu kata-kata yang gue lontarkan saat berontak dan setau gue hanya itu kata yang pas untuk dilontarkan.

Ditengah-tengah perjalanan, baron memisahkan diri, katanya dia mau menjemput teman kerjanya yang sedang pelatihan di Bogor, setelah itu kembali bergabung dengan kita. Gak lama gue sama alvian sampai di tempat tujuan. Ternyata dia nyulik gue ke Taken, tempat dia ngajak gue buka puasa bersama. Ya Salaaam. Dalam hati gue bertanya-tanya, "kenapa ini anak ko demen banget di tempat ini, gak ada tempat lain apa!".

"Ngapain sih yan kita disini?", tanya gue dengan penasaran
"Udah diem aja loe, sebelum nyulik loe, gue janjiannya disini sama baron"
"Si baron mau bawa temen ceweknya kesini, sekalian kan dibelakang ada wisma", sambung perkataan alvian sambil menggerak-gerakan kedua alisnya

Waah.. Wanjirr, seketika gue langsung bengong, maksud alvian ngomong barusan itu apaan?. Gue berfikir keras, imajinasi pun menjadi liar. Apakah ini?... haruskah gue... aah sudahlah gue liat aja nanti sesampainya si baron dan temennya itu. Ketika gue sedang menunggu tiba-tiba ada mobil fortuner berwarna hitam berhenti di depan gue, jendela kacanya kebuka, sontak gue kaget ketika liat wajah dibalik kaca jendela tersebut, seorang lelaki tua berwajah garang, berjenggot lebat, memakai udeng, bersorban juga memakai jubah. Mampus! gue berfikir kalau gue lagi dirazia sama ormas, ketangkep basah disangka sepasang maho lagi ngedate di pojokan jalan Taken. Gue ketar-ketir sama si alvian, saling sikut-sikutan. Enggak lama lelaki tua itu mengucapkan sesuatu, dia menanyakan tempat makan yang disebutnya ada dimana, dengan cepat kita berdua menunjukkan tempat makan tersebut

"di..disana pak!", ucap gue sama si alvian dengan nada ketakutan
"Oh, disana?, Oke makasih", jawab si bapak sambil menutup kaca mobilnya

Pyuuhh.. amaan, ternyata cuma nanya tempat makan

Setelah kejadian itu gue menyarankan si alvian buat pindah tempat, dan kita pun pindah ke tempat yang banyak berjualan makanan. Disana si alvian beli batagor dan gue beli es dung-dung durian. Kita berdua duduk dan makan bersamaan. Ketika itu gue merasa ada yang aneh tapi apa ya?. Gue cek suasana sekitar dan benar ada yang aneh. Damn! ternyata disekeliling kita banyak orang yang sedang berpacaran, berpasang-pasangan, ada yang bercanda tawa sambil pesen makanan, ada yang suap-suapan dibangku taman, ada juga yang mojok disemak-semak taman dalam kegelapan. Gue berdiri menyaksikan mereka semua, "Waah pada gak beres nih, di bulan puasa gini bukannya terawih malah pada pacaran", eh..padahal gue juga enggak terawih. Kembali duduk. Gue liatin si alvian, dia enggak peduli dengan suasana sekitar terlihat dari lahapnya dia menyantap batagor yang dimakannya. Saat itu kita benar-benar terlihat seperti maho newbie yang baru ketemuan yang kenalan dimedia sosial.

Singkat cerita akhirnya kita bertemu dengan baron dan temen ceweknya itu. Kita bertemu di tempat lain karena saat kita sedang nunggu tiba-tiba turun hujan. Di tempat tersebut mereka semua makan doclang, sementara gue cuma liatin mereka makan karena perut gue masih kekenyangan. Sesudah makan, alvian mengajak kita semua untuk main ke rumahnya tapi baron dan temennya itu enggak bisa, dia harus nganterin pulang temennya itu ke hotel. Gue dan alvian saling berpandangan sambil berkata "menang banyaak niiih!". Setelah itu kita berpisah, baron dan temennya ke hotel dan gue sama alvian balik ke rumah masing-masing.

Sesampai di rumah, gue rebahan sambil tidur-tiduran hingga enggak sadar gue ketiduran. Kira-kira jam 1 malam Handphone gue berdering, gue kebangun dan ternyata ada telpon dari baron, ditelponnya itu dia nyuruh gue nginep di hotel yang sama dengan temen ceweknya. Dia juga nyuruh buat ajak alvian. Gak pake mikir lama gue langsung jemput alvian kerumahnya. Gue ceritain soal nginep di hotel itu ke alvian lalu dia pun langsung siap-siap. Sesudah itu kita langsung menuju hotel tapi sebelumnya gue sempetin beli martabak telur dulu buat sahur dihotel. Sesampainya di parkiran hotel kita disambut oleh baron dan temennya itu, kita langsung diajak ke kamar. Didalam kamar ada kita berempat: gue, alvian, baron dan temen ceweknya. Gue canggung setengah mati, ini maksudnnya mau ngapain kita nginep di hotel dengan 1 cewek, sekamar lagi. Fikiran gue kacau gak karuan, gue berfikir apakah ini waktunya meragakan adegan film-film yang pernah gue tonton? yang banyak orang menyebutnya "Gangbang". Entahlah, seketika jantung gue menggebu-gebu, untuk pertama kalinya gue ngalamin hal seperti ini. Di dalam kamar gue sama alvian diem di kasur dan baron sama temen ceweknya duduk ngobrol di depan jendela yang agak jauh dengan kita.

"Yan si baron sama temennya lagi ngobrolin apa sih?", tanya gue
"Gak tau, mungkin lagi nego", jawab alvian
"Maksudnya nego apaan?", pertanyaan gue makin penasaran
"Udah liatin aja entar"

Kita pun terdiam mengamati mereka. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak berapa lama temen ceweknya pun berdiri, dia berjalan mendekati kita, melihat ke arah kita berdua. Badan gue jadi sedikit gemetaran dan menggigil. "Duuh...aduuh gimana ini?" tanya gue dalam hati. Ternyata suhu AC nya terlalu dingin membuat badan gue gemetaran dan menggigil. Cewek tersebut mengucapkan salam perpisahan, ternyata dia mau tidur di kamarnya, kamar yang berbeda dengan kamar kita. Ternyata gue udah salah sangka atas prasangka-prasangka kotor yang gue fikirkan saat itu. Lain hal dengan alvian, dia seperti merasa rugi "ya..yaaah, engga jadi deh!". Setelah gue tanya ke baron soal nginap di hotel ini ternyata kamar yang kita tempati adalah kamar atasan temen ceweknya baron, kamarnya tidak terpakai lantaran atasannya tidak tidur di hotel melainkan pulang ke rumahnya.

Pagi harinya kita pulang, kira-kira pukul 6 kita sudah meninggalkan kamar. Saat kita akan mengembalikan kunci kepada resepsionis, gue seperti melihat tatapan yang aneh dari si abang resepsionisnya. Sial, apa mungkin si abangnya itu menyangka kita bertiga penyuka sesama jenis?, dan mungkin berprasangka kita menginap di hotel untuk melakukan adegan treesome. Biar enggak disangka yang tidak-tidak, kita bergegas meninggalkan hotel tersebut.

Selasa, 22 Agustus 2017

Saodah yang Penuh Amarah

Disuatu masa hiduplah sekeluarga manusia yang tinggal di gubuk sementaranya (ngontrak), mereka terdiri dari 4 orang manusia yaitu sepasang suami istri dan kedua anaknya. Seorang suami yang bermata pencaharian sebagai tukang bubur, istrinya yang bernama saodah sebagai ibu rumah tangga dan kedua anaknya yang masih kecil, sebut saja mereka ayi dan otok. Ayi adalah anak perempuan juga anak bungsu, kira-kira umurnya 1½ tahun dan otok adalah kakak laki-laki dari ayi umurnya ±5 tahun. Mereka hidup dengan damai, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang...

Enough...enough!, Gue kira cukup untuk menuliskan prolog tentang keluarga tersebut. Mau diterusin takut engga kuat nahan isak tangis. Hik hik.
Saodah, siapa sih saodah itu?, Saodah adalah nama ibu dari ayi dan otok. Berbadan besar, bulat, hitam, dan mulutnya itu loh..beeuh barokah deh omongannya. Sekali saodah ini marah, nasi aja bisa jadi bubur (yaiyalaah suaminya yang bikin bubur), sekali suaminya bikin bubur dia langsung naik haji, eeeh...sinetron kali ye.

Keluarga ibu saodah ini adalah salah satu tetangga gue, jarak rumahnya dengan rumah gue kira-kira 7 meter. Keluarga saodah menjadi keluarga ter-hits di kampung gue, bagaimana tidak karena hampir setiap harinya keluarga ini menjadi tontonan warga kampung gue, ini dikarenakan kelakuan ibu saodah kepada anaknya yang kurang "mendidik" dan bahasanya yang tidak patut didengar oleh siapapun terlebih anak-anak di bawah umur.

Otok sebagai anak pertama ibu saodah selalu bertengkar dengan ibunya sendiri, mereka berdua seperti kucing dan anjing, bertengkar setiap harinya. Pertengkaran mereka semacam alarm buat gue sendiri. Misal jika mereka bertengkar pagi hari artinya sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan jika mereka bertengkar sore hari berarti sudah pukul 5 atau 6 sore. Begitulah kelakuan ibu saodah setiap harinya.

Mungkin pertengkaran mereka disebabkan oleh kesalahan otok yang tidak patuh kepada ibunya, namun menurut gue cara ibu saodah marah kepada anaknya tidak pantas di lontarkan dengan kata-kata kasar, sampai seisi hewan di hutan rimba dia absen.

OTOOOK KADIE SIAAAA ANJIIING, TOLOOL SIA*, DIPAEHAN SIA KU AING**
terjemahannya, OTOOOK KESINI KAMU ANJIIING, TOLOOL KAMU, DIBUNUH KAMU SAMA SAYA
*SIA = kamu (bahasa kasar)
**AING = saya (bahasa kasar)

MOONYEEET SIA DASAR GOBLOOG, TOLOOL TONG BALIK SIA KA IMAH
terjemahannya, MOONYEEET KAMU DASAR GOBLOOG, TOLOOL JANGAN PULANG KAMU KE RUMAH

Bagaimana menurut elu tentang amarah ibu saodah ini?, barokah bangetkan bahasanya. Sampai sempat ada seorang ibu yang tinggal sebelahan dengan ibu saodah menegur karena merasa terganggu dengan bahasanya. Karena si ibu ini takut dengan bahasa ibu saodah yang kasar dapat membawa pengaruh buruk untuk anaknya dan juga untuk anak-anak lainnya yang mendengar. Karena ibu saodah ini tidak terima maka terjadilah pertempuran, pak RT yang mengetahui kejadin ini langsung sigap menanggapi dengan memasang ring di arena pertempuran, bel pun dibunyikan oleh pak RT, "TEENGG!" menandakan pertempuran dimulai, warga yang melihat dari jauh pun berbondong-bondong datang mendekat, mereka merogoh semua kantong celananya, mengambil uang untuk memasang taruhan. Waanjiiir kenapa jadi gini ya ceritanya?, bodo amat daah.

Lantang amarah ibu saodah ini memang luar biasa, mungkin bisa terdengar sampai ke langit ketujuh, mengalahkan suara toa tukang tahu bulat yang sedang pawai. Pernah gue lihat sendiri pertengkaran ibu saodah dengan otok anaknya. Otok yang ketakutan lari terbirit-birit dikejar oleh ibunya, bu saodah ini lari mengejar otok dengan sendal jepit ditangannya, mungkin untuk dilemparkan ke anaknya, kalau enggak salah pas gue perhatikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya merk sendal jepit yang dipegang bu saodah ini adalah sky way berwarna hijau. Mungkin ya, itu baru perkiraan gue aja. Hehe.

Kejar-kejaran itu tepat banget di hadapan gue, bu saodah berlari melewati rumah gue dan terus berlari mengejar anaknya, tidak lupa dengan bahasanya yang barokah itu. Gue yang liat kejadian itu, melihat bu saodah seperti melihat godzilla yang meraung kelaparan sedang mengejar sate taichan untuk disantapnya. Namun usaha bu saodah untuk menangkap anaknya gagal, dalam kekesalannya bu saodah pun mengucap "MONYEET SIA TOLOOL, AWAS SIA MUN BALIK KA IMAH MOAL DIBERE PANTO KU AING. Terjemahin sendiri. Setelah itu bu saodah berjalan pulang dengan sandal jepit sky way yang masih digenggamnya.

Lantas selama pertikaian bu saodah dengan anaknya, dimanakah suami bu saodah berada?, mengapa tidak melerai pertikaian tersebut?, entahlah!. Mungkin suaminya menghilang ketika negara api menyerang.

Senin, 21 Agustus 2017

Gue Gede

Terkadang perubahan itu tidak semuanya menyenangkan apalagi yang berubah itu berat badan dari yang awalnya kecil menjadi bessaaar, karena tidak hanya angka timbangan yang berubah semakin bergerak ke kiri melainkan ukuran baju, celana, dan pakaian dalam pun berubah. Mungkin baju dan celana tidak berubah tapi mesti diganti dikarenakan tidak cukup atau kebesaran, kalau celana dalam sih gak masalah lah selama belum bolong dan tali karetnya belum putus. Terkecuali lu pake g string kalau talinya putus bisa disambung pake tali rapia atau bisa juga pake karet gelang biar bisa melar.

Ngomongin soal berat badan, akhir-akhir ini gue ngerasa minder sama ukuran badan gue sendiri, gue merasa seperti badan yang sekarang ini bukanlah badan gue, badan gue yang dulu badannya gak terlalu cungkring dan gak gede juga, yaaa 'pas' lah namun nyatanya sekarang ko jadi gede gini?, wajah gue jadi keliatan bulat, pinggang jadi lebar kaya pelampung sekoci, perut juga jadi gede kaya polisi tidur pokoknya ga enak gue liat dah. Tapi nyatanya ini memang badan gue, terasa saat gue gerak-gerakin badan ya bergerak juga, gue gerakin si otong ke atas pun bergerak ke atas tapi mesti ada pemicunya, digerakin ke bawah juga bergerak ke bawah tapi mesti dibantu tangan, hehehe. Efek dari perubahan ini gue jadi cepet cape, cepet laper dan cepet sakit, cepet galau....eeeh. Gimana badan gue gak ngegedein, jam 7 udah sarapan masa jam 9 perut udah nagih minta diisi, jam 12 badan dah gemeteran. Kalau gue turutin kepengen perut yang ada tambah gendut kalau kaga diturutin entar malah sakit kena magh, kan jadi serba salah, serba salahnya kaya ngadepin cewe yang lagi PMS gitu.

Terakhir gue cek berat badan itu beratnya 65 kg, dengan berat segitupun gue udah was-was, panik, kebakaran bulu kudu, ko gue jadi gede gini? Duh gimana nih?, gue cari cara buat kecilin badan, searching-searching di mbah google dan alhasil kebanyakan cuma jual-jual produk pelangsing gitu, sumpah gue ogah kalau mesti harus mengkonsumsi obat-obatan gitu pengennya ngecilin badan tuh secara alami. Gue coba cari di youtube dan nemuin video olahraga buat ngecilin badan khususnya bagian perut, gue download. Wah mantap kali nih videonya, body si mba instrukturnya itu loh...beuh...eeh salah itu mas-mas, gue coba terapin dan badan gue bakal bagus lagi kaga gede gini. Optimislah setelah liat video tersebut, niat untuk menjajalnya pun berkobar. Sepulang dari kerja langsung gue coba tuh gerakan-gerakan olahraga dari video yang udah gue download. Huuh....haah...huuh...haah, cape, nafas ngos-ngosan keringat berkucuran, 10 menit gue olahraga capenya udah kaya berkali-kali balik lari dari masa lalu...ciee baper. Walau cuma 10 menit berolahraga badan gue terasa sakit dan pegal-pegal tapi badan jadi terasa lebih segar. Keesokan paginya saat bangun tidur badan gue malah lebih terasa sakit, terutama dibagian perut, mau bangun aja kaga sanggup mesti miringin badan dulu baru bisa bangun, paha pun terasa sakit lebih-lebih saat berjalan, rasanya kedua paha gue seperti di gebukin pake barbelnya agung hercules. Setelah tragedi itu gue vakum ngikutin gerakan olahraga tersebut.

And a long time ago...

Gue coba searching-searching lagi di mbah google, kali ini gue nemuin tutorial kecilin perut buncit dengan perasan air lemon. Heemh...boleh juga buat dicoba, sepulang kerja gue langsung pergi ke supermarket "jayeun" buat beli lemon , waktu itu gue belinya ½ kg dapet 8 buah. Keesokan harinya pas bangun tidur gue langsung bikin perasan air lemon, cara bikinnya satu lemon dibelah dua, satu dari belahannya diperas kedalam gelas untuk diambil air lemonnya, setelah itu tambahkan air hangat secukupnya, aduk hingga merata dan ....taaaraaa jadi deh perasan air lemon hangat ala chef alif. Hahaha.

Glek...glek...glek.. perasan air lemonnya gue minum sampai habis, rasa asamnya itu loh...beeuh bikin merem melek karena air lemonnya engga gue tambahin gula, lu bayangin dah asemnya. >_<

Semenjak itu tiap pagi pas bangun tidur gue rutinin minum perasan air lemon hangat dan faedahnya pun mulai terasa, gue ngerasa perut jadi agak ngecilin dan suara gue jadi enteng. Namun tidak lebih dari seminggu, gue kena sakit magh, entah karena efek samping minum perasan air lemon tersebut atau apa, yang jelas perut gue jadi sensitif terhadap makanan / minuman yang asam dan pedas, soo kalian pun tau kelanjutannya gimana....yups! gue berhenti meminum perasan air lemon lagi. FIX!

Gagal maning.....gagal maning

Tiga bulan gue jalanin hidup ini seperti biasanya, tanpa ada treatment untuk kecilin badan, mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi dengan badan gue yang sekarang, menerima kenyataan!

Kamis, 06 Oktober 2016

Tempat Kerja yang Horor

Based on true story
Hari senin tepatnya pada tanggal 1 Desember 2014 adalah hari pertama gue kerja. Gue kerja sebagai Layout jurnal editor & IT Engineering di Departemen Biokimia IPB dengan status pegawai honorer, tempat gue bekerja di lantai 5 yaitu lantai paling atas. Ruangannya pun berbeda dengan ruangan pegawai yang lain, terpojok di sudut gedung, lembab, sendirian, terasingkan. Gue terkesan saat pertama kali ditunjukkan ruang kerja gue, ruangannya cukup besar namun penuh dengan debu, barang-barang rusak, tumpukan buku lapuk dan dinding yang dihiasi dengan tirai jaring laba-laba, Sekilas mirip gudang penyimpanan barang bekas tapi apa daya yang gue lihat adalah ruang kerja gue sendiri.

Baru tiga hari gue bekerja, disuatu malam saat gue tidur, gue bermimpi ada seseorang yang menuntun gue mengajak kesuatu tempat, di dalam mimpi itu gue lagi ada di tempat kerja. Seseorang tersebut menuntun ke ruangan yang dihuni oleh makhluk halus. Pertama dia mengajak ke ruang kerja gue, ditunjukkannya tempat makhluk halus itu yang berada di pojok kanan belakang meja kerja, Sesosok wanita barpakaian putih kumal dan berambut hitam panjang. Setelah itu gue diajak ke dua tempat lainnya yang berpenghuni makhluk halus yaitu ke ruangan pelayanan mahasiswa S1 dan ruang sekretaris departemen. Selepas dari mimpi itu setiap di tempat kerja gue jadi merasa ketakutan sendiri, kerja pun merasa engga nyaman. Hingga suatu ketika gue ngalamin kejadian yang ganjil.

Suara tawa perempuan dan ketukan jendela
Ini adalah kejadian horor yang pertama, saat gue tengah sibuk dengan kerjaan, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari jendela ruang kerja gue. Kejadian tersebut kira-kira jam dua siang, dan sudah biasa pada jam tersebut di tempat kerja sudah pada sepi karena mahasiswa yang biasa nongkrong di kantin dekat ruang kerja gue sudah pada pulang. Diawali dengan suara ketukan pada jendela "Tuk...tuk...tuk", gue noleh ke belakang ke arah jendela, engga ada apa-apa dan gue anggap biasa saja, namun engga lama saat gue kembali bekerja bukan lagi suara ketukan jendela melainkan suara perempuan tertawa dari arah jendela yang sama. Mendengar suara tawa tersebut seketika bulu kuduk gue berdiri, pengen lihat ke arah jendela tapi takut muncul sesosok yang tidak ingin gue lihat namun akhirnya gue beranikan diri untuk melihatnya. Gue deketin ke arah jendela dan gue buka jendelanya, tidak ada apa-apa. walau demikian gue tetap merasa ketakutan karena tidak mungkin ada seseorang di balik jendela ruang kerja gue sebab ruangan gue ada di lantai 5 dan kalau jendela di buka langsung terlihat ke lantai 1.

Suara tangisan di samping pintu ruang kerja
Seperti biasa, kejadian ini terjadi pada jam dua siang ke atas. Saat itu gue sedang kerja, di kantin pun masih ada beberapa mahasiswa yang sedang memesan makanan. Terlihat ada seorang mahasiswi yang berjalan ke arah ruangan kerja gue, dia duduk di bangku yang ada di samping depan pintu ruangan, tidak lama saat dia duduk terdengar suara isak tangis dari mahasiswi tersebut, saat gue mendengar tangisannya, gue berfikir mungkin mahasiswi yang menangis itu sedang ada masalah dengan temannya atau dengan  dosennya atau mungkin ada kabar duka dari keluarganya, entahlah. Awalnya gue diemin namun lama kelamaan gue merasa simpati juga dan merasa kasihan, gue coba untuk menghampirinya , saat gue di depan pintu dan melihat ke arah bangku yang berada di samping pintu ruangan, gue merasa terkejut dan takut karena di bangku tersebut tidak ada seorang pun yang mendudukinya, siapa yang barusan duduk dan menangis di bangku tersebut? entahlah, pertanyaan dan rasa ketakutan menggumpal dalam fikiran, gue beranikan diri untuk kembali bekerja.

Nyanyian nike ardilla saat komputer tidak menyala
Kebiasaan gue saat sedang bekerja yaitu mendengarkan musik dan musik yang selalu gue dengarkan adalah lagu dari alm. nike ardilla, suara khas serak-serak tak berdaya yang membuat gue tenggelam dalam setiap lirik yang dinyanyikannya.

Mengapa kau nyalakan api
Cinta di hatiku
Membakar jiwa yang merana
Kata manismu
Membuatku yakin kepadamu
Hingga membuatku terlena
.....

Lagu dengan judul sandiwara cinta yang menjadi salah satu lagu favorit gue, diputar berulang-ulang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, awan sudah gelap, mendung pertanda sebentar lagi akan turun hujan, gue niatin untuk pulang kerja lebih awal karena pegawai yang lain pun sudah pada pulang, kantin sudah tutup, tidak ada mahasiswa seorangpun, sepi mencekam. Sebelum pulang gue sempetin untuk solat ashar, gue solat di mushola yang berada di depan ruang kerja gue, jaraknya kira-kira gue loncat juga langsung sampe. Komputer dimatikan dan bergegas untuk solat. Ketika sedang solat, gue mendengar suara lagu nike ardilla yang terakhir kali gue dengerin sebelum komputer dimatikan, suara lagu itu berasal dari ruang kerja gue. "Siapa yang menyetel lagu disaat tidak ada seorangpun ditempat kerja?", "Ruang kerja udah gue kunci dan gak mungkin ada orang yang masuk?", "Komputer udah gue matiin, masa bisa hidup sendiri?", pertanyaan silih berganti membuat solat pun menjadi tidak khusyuk, setelah selesai solat gue langsung ke ruang kerja, gue buka pintu yang masih terkunci, lagu nike ardilla pun masih terdengar di dalam, pintu dibuka dan lagunya tidak terdengar lagi, gue lihat ke sekeliling ruangan tidak ada siapa-siapa, merinding disekujur tubuh, dengan cepat gue ambil tas yang masih tersimpan di dalam ruang kerja, suara petir menggelegar membuat gue bergegas untuk pulang.

Masih banyak peristiwa menakutkan  yang gue alamin di tempat kerja, seperti: seorang wanita berpakaian putih lari ke dalam mushola tapi pas gue cek engga ada apa-apa di dalam mushola, pintu kerja gue yang dibanting padahal pintunya udah gue kunci, dan masih banyak, pengen gue tulis itu semua tapi melihat sekarang udah pukul setengah tiga sore dan suasananya pun udah sepi, senyap, gue akhiri sampai sini aja.

Selasa, 27 September 2016

Ternyata Aku....

Sang mentari mulai berseri menawan, mengucapkan salam perpisahan pada sang rembulan, menyapa setiap insan dengan penuh kehangatan. Membangunkan aku dalam lelapnya mimpi yang tak ini aku akhiri. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ku bergegas keluar rumah untuk seseorang yang akan aku temui. Pintu rumah ku buka, mengawali langkah pertama dengan mengucap doa. Langkah demi langkah ku jalani walau hanya beralas kaki tanpa transportasi. Jalan terjal berliku dan berbatu tak menyusutkan tekadku untuk bertemu dengan mu.

Dari kejauhan, aku melihat dirimu, membuat langkahku semakin cepat melaju. Semakin dekat, semakin dekat, dan mendekat. Langkah pun terhenti, kini aku sudah berdiri tepat di depanmu. Senyum kecil diiringi wajah berseri kau suguhkan kepadaku, namun...aku hanya terpaku, diam dan membisu. Hanya getar dalam raga kian semakin menggila yang ku rasa. Kau terdiam, aku terdiam, suasana menjadi hening sepi seolah waktu pun ikut terhenti. Ingin ku ucapkan sesuatu tapi ku takut ku tak mampu. Kau masih terdiam, memandangku, menunggu sesuatu yang terucap dari bibirku. Ku beranikan diri mengatakan sesuatu kepadanya karena aku tak sanggup lagi menahan perih ini. Dengan lantang ku ucapkan

"Bu... pesen ketopraknya 1 ya bu, engga pake pedes, sama engga pake lama juga ya", ucapku dengan menahan perut yang perih dan badan gemeteran.

Ternyata...ternyata aku...aku lapar, dari semalam belum makan.